Aku Seorang (pemula) Homeschooler

Aku seorang homeschooler! mungkin terdengar aneh atau terlalu 'lebay' percaya diri.  Entahlah apa yang terbayang ketika orang mendengar kalimat ini.  Beberapa mungkin bertanya (serius atau basa-basi-entahlah) seperti : maksudnya anda sekolah hanya di rumah saja? privat panggil guru? anda pastilah seseorang yang memiliki uang berlebih karena biaya homeschooling itu mahal (upps..??), dan beberapa pertanyaan yang (jujur) sulit untuk dijawab hanya dengan 1 atau 2 menit saja.
Beberapa yang lainnya tidak peduli, atau justru sinis mencemooh.  Tidak masalah, karena semua yang terasa berbeda, mungkin terlihat aneh dan menyebalkan (lagi) bagi sebagian orang.

Kami baru saja memulainya.  Awalnya, Altair sama dengan anak-anak pada umumnya, bersekolah di PAUD di dekat rumah.  Namun di tengah perjalanan, di tahun 2014, aku mengalami sakit yang membuatku sulit untuk mengantar-jemput Altair karena terbatas waktu untuk rutin bolak-balik jadwal fisioterapi di RS.  Sejak itu, aku ijin kepada pihak sekolah Altair untuk 'cuti' dan tidak masuk sekolah untuk beberapa waktu. Saat itu usianya hampir 4 tahun.

Ternyata proses bolak-balik RS, dan dengan kondisi tubuhku yang (saat itu) kurang baik, memakan waktu cukup lama.  Sejak saat itulah aku sering menemani  hari-hari Altair bermain bersama untuk mengisi waktu.  Karena ada perasaan bersalah telah menariknya dari sekolah, aku mulai sering browsing permainan untuk anak usia dini, mencoba menstimulasinya dengan beberapa kegiatan, hingga mulai berkenalan dengan beberapa keluarga praktisi homeschooling.

Hari terus berlalu, dan tidak terasa 1 tahun lebih kulewati dengan kebersamaan yang lebih intens.  Sakit (HNP) ku juga terasa sudah pulih. Tapi perasaan ingin memasukkan Altair ke tingkat sekolah taman kanak-kanak, terasa berat.  Aku sudah semakin menikmati kebersamaan kami berkegiatan.  Selain itu efek positif selama berproses semakin aku rasakan.  Aku semakin belajar memahami  karakter Altair.  Tingkat kesabaranku juga semakin besar.  Kemauanku berkreasi bersama Altair dengan toleransi melihatnya belajar dari kesalahan mulai terasah.  Akhirnya aku berpikir, "Ah.. tidak masalah, baru tingkat TK juga." dalihku.

September 2015, aku memiliki anak kedua.  Tidak lama kemudian Altair mengalami sakit karena efek asap yang saat itu terjadi di kotaku.  related post: Asapmu jangan kamu beri (lagi) untuk kami.  Perjalanan berkegiatan bersama semakin sering kami lakukan. Homeschooling usia dini telah kami lewati.  Tahun ajaran baru sekolah dasar mulai menanti di depan mata.  Banyak yang bertanya kepada kami Atair mau masuk sekolah mana? Dengan usianya yang 6,5 tahun, wajar jika diberi pertanyaan seperti itu, mengingat sebelumnya dia terlihat tidak bersekolah TK seperti kebanyakan anak-anak seusianya disekitarku.

Hingga saatnya harus diambil keputusan.  Setelah berkeliling melihat beberapa sekolah, akhirnya (justru) keputusan melakukan homeschooling usia sekolah (saat ini) kami ambil.  Entah kebetulan atau tidak, namun jika ditanya, Altair mau sekolah? Saat ini jawabannya mau sekolah di rumah saja dengan umi.  Dan saat ini jika ditanya oleh orang-orang, Altair sekolah dimana? Dia menjawab, "homeschooling".
Apakah Altair pernah melihat teman-temannya bersekolah dan pergi dengan seragam? jawabnya ya. Setiap hari dia melihat teman-temannya bersekolah.  Diapun memiliki teman bermain bersama anak sekolahan. Namun saat ini kami memilih untuk melakukan pendidikan berbasis rumah.  Bagaimana dengan besok? kita lihat saja nanti.  Karena sekarang kami masih menikmati proses sekolah rumah.

BAGAIMANA KAMI MENJALANI HARI-HARI KAMI?

*Semua tentang hubungan
Kami fokus memelihara hubungan.  Hubungan antara orangtua dan anak, hubungan antara pasangan, hubungan antar saudara kandung, dan hubungan dengan Allah SWT.  Kami menikmati waktu kebersamaan.  Memiliki kebiasaan keluarga sendiri yang mungkin saja berbeda atau sama dengan beberapa orang.  Tapi kami adalah keluarga yang suka menghabiskan waktu bersama.  Apakah itu membaca buku bersama, berjalan-jalan bersama, memasak bersama, atau hanya sekedar bersendagurau.

*Visi keluarga
Visi kami adalah memaksimalkan waktu untuk mencoba banyak kegiatan beragam hingga menemukan sesuatu yang menjadi target masa depan anak-anak, tetap mempertahankan kultur kebersamaan, saling belajar memahami dan menghargai.  Mungkin terlihat idealis untuk sebagian orang, namun ketika kami ingin berhenti, kami akan mencoba mengingat kembali alasan kami memutuskan homeschooling saat ini.

*Selalu belajar mengembangkan kebiasaan baik
Membentuk kebiasaan baik terlihat berat di awal-awal, namun istilah ala bisa karena biasa sangatlah memnungkinkan kebiasaan baik akan semakin mudah dilakukan.  Dari mengatur waktu, keterampilan hidup, Etika bertingkah laku, keterampilan bersosialisasi, pilihan berolahraga, menjaga kebersihan, beribadah,yang semuanya dipelajari dilatih dan terus berproses hingga saatnya nanti anak-anak 'meninggalkan rumah'.  Tetap belajar dan fokus menanamkan kebiasaan baik.

dokumen pribadi

*Meningkatkan keterampilan interpesonal
Berlatih mengembangkan keterampilan interpersonal yang kuat.  Berkomunikasi, berinteraksi secara individu atau berkelompok.  Menjadi bagian dari komunitas, berinteraksi dalam berbagai situasi, menunjukkan kebaikan dan kasih sayang kepada orang lain.

*Mengenali dan menerima gaya belajar anak dan gaya mengajar diri sendiri
Bersyukur dan bangga menjadi diri sendiri.  Tidak berusaha untuk menjadi orang lain. Mencintai anak-anak dengan keunikannya.  Tidak mencoba membandingkan anak-anak dengan orang lain.  selalu mencoba berbagai cara dalam melakukan pendekatan pendidikan dan pengajaran. Selalu merangkul dan menghargai untuk belajar dari setiap kesalahan hingga menjadi lebih baik di tahap selanjutnya.

*Membiasakan budaya baca.
Meningkatkan kesukaan membaca dalam keluarga.  Membaca bersama, saling membacakan, mencoba melatih membaca dengan baik, memahami sebuah makna tulisan dan meningkatkan kemampuan mengekspresikan sebuah tulisan.  Terus belajar, dan berproses,

dokumen pribadi

*Membangun kebiasaan kuat tahun awal
Fokus untuk berlaih dan belajar membaca dengan intonasi dan bahasa yang baik.  Belajar berhitung sebagai sebuah kesatuan penting yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, seperti saat berbelanja, atau mengatur waktu.  Berlatih menulis setiap hari. Dan Agama sebagai tuntunan hidup.

*Mengenal banyak bidang ilmu
Mengajak anak-anak melakukan banyak kegiatan, perjalanan mengunjungi, mencoba berbagai kendaraan, pengalaman, dan mengekspresikan perasaan.  Mengenal hingga mereka yakin akan memutuskan hal baik dimasa depannya

*Kami bukanlah seseorang yang serba bisa
Tidak merasa menjadi orangtua yang paling tahu dan paling benar.  Tidak salah juga untuk tetap berjuang dan mencari tahu banyak hal.  Selalu berproses dan belajar.  Tidak masalah meminta dan bertanya kepada yang lebih ahli.  Menemukan mentor yang dibutuhkan pada sebuah bidang bahkan mengikuti kelas online.  Karena pada dasarnya kami (orangtua), masih pendidik utama anak-anak, hanya saja kami masih mencari hal (sumber) lain untuk melengkapi perjalanan homeschooling kami.

Akhirnya kami (aku, pasangan, anak-anak) selalu berproses dan belajar dalam setiap waktu perjalanan homeschooling kami

Bagaimana pengalaman perjalanan homeschoolingmu?

#ODOP
#bloggermuslimahindonesia









Komentar

Postingan populer dari blog ini

DIY: Kaleng/Ember Cat Bekas Menjadi Kursi

Anak Demam, Berapa Dosis Parasetamol yang Sebaiknya Diberikan?

Ketika Tayo Mengalahkan Emak-Emak