Bagaimana Menyiapkan Anak-Anak untuk Pindah ke Rumah Baru

Kami baru saja selesai merenovasi rumah, itu artinya kami harus pindah ke rumah baru kami.  Untuk saya yang dewasa dan lebih terbiasa berpindah-pindah, mungkin rasanya tidaklah terlalu sulit untuk menyesuaikan diri meninggalkan lingkungan lama dan menyesuaikan diri di lingkungan baru, meskipun beberapa hal membuat saya merasa sedikit kehilangan dengan suasana, dan teman-teman di sekitar rumah lama (tetangga) yang sering berinteraksi dengan saya, namun dengan seiringnya waktu semua dapat cepat terkendali.

Satu hal yang menjadi pemikiran kami adalah, apakah hal ini akan mempengaruhi anak-anak kami, dengan perubahan suasana, kebiasaan, kondisi rumah, dan tentu saja teman-teman sekitar.  Sebelum melangkah dan menebak-nebak apa yang akan terjadi, saya hanya berpikir bagaimana menyiapkan bukan saja pengemasan barang-barang untuk kepindahan, namun mental dan penerimaan lingkungan untuk anak-anak saya.  Bagaimana kami melakukan hal itu? Beberapa hal yang saya lakukan untuk mengantisipasi kondisi tersebut diantaranya adalah:

*Bicara
Yah, sepertinya terlihat mudah dan solusi terbaik yang bisa dilakukan adalah membicarakannya.  Bicara di sini tidak berarti cukup satu kali atau dua kali saja, ketika mendapatkan rumah baru, akan merenovasinya selanjutnya pindah.  Bukan hanya itu.  Kami mengatakan bahwa kami menemukan sebuah rumah dan membelinya dari seseorang.  Tapi karena rumah tersebut merupakan rumah lama, kami menceritakan bahwa rumah tersebut akan dibersihkan dan diperbaiki agar nyaman untuk kita tinggali.

Related post :trik renovasi rumah kami

Kami juga menceritakan dimana lokasi rumah itu kepada anak-anak kami, terutama Altair, apa saja yang berhubungan dengan rencana kepindahan kami nantinya.  Maksud saya adalah, bahwa kepindahan kami bukan berarti membuat anak-anak menjadi tersisih dan tidak merasa nyaman karena berada dilingkungan yang berbeda dengan sebelumnya.

*Menjadikan anak-anak sebagai bagian dari proses
Sejak awal sebelum membeli rumah, Altair khususnya diajak untuk melihat langsung ke lokasi tersebut.  Penting bagi kami untuk mendengar pendapatnya dan mendiskusikannya bersama.  Walaupun terdengar ocehan spontan Altair pada awalnya bahwa ia tidak menginginkan tinggal di rumah itu, karena seperti rumah hantu, justru menjadi bahan bagi kami untuk bercerita panjang lebar bahwa rumah itu akan dibersihkan dan diperbaiki sehingga akan menjadi menyenangkan nantinya untuk ditinggali.
Senang juga ketika membicarakan bagaimana saya mengubah beberapa bagian rumah, menambah dan mengganti fungsi ruangan menjadi ruangan lain, sehingga menjadi bahan pembicaraan yang menarik bersama Altair.  "Mengapa dapur di depan, bukan dibelakang?", Altair mau cat warna biru", adekpun ikut-ikutan menjawab, "Pink!", dan beberapa percakapan lainnya.

Akemi ikut terlibat dengan ikut melihat proses menyusun bingkai foto 
yang akan dipasang di salah satu dinding rumah. (foto:dokumentasi pribadi)

*Memberikan pengaruh positif selama proses berjalan
Terkadang dalam renovasi rumah, tidak selalu berjalan mulus, seperti beberapa kenaikan harga material di luar perkiraan, jenis bahan bangunan yang kosong di toko langganan, warna cat yang diinginkan ternyata tidak diproduksi lagi sementara keputusan mengganti warna harus segera diambil agar tidak menghabiskan waktu pengerjaan, dan beberapa hal tak terduga muncul terus-menerus.  Tapi di saat anak-anak ada di sekitar, kami harus tetap memberikan energi positif dan terus bersemangat, sehingga tidak ada perasaan tertekan dan tidak menyenangkan dalam prosesnya yang bisa saja mempengaruhi emosi sehingga dapat ditangkap oleh anak-anak, kemudian justru akan memberikan pendapat negatif pada anak-anak.
Misalnya saja ketika kami belum menemukan material keramik yang ternyata motif yang kami inginkan sedang kosong di distributorm pada akhirnya memberikan kesempatan kepada Altair memberikan pendapatnya untuk memilih motif baru dan membuatnya bangga bahwa pendapatnya didengarkan.

*Membiarkan mereka menjelajah
Sejak awal, setelah membeli, kemudian mulai merenovasi, anak-anak sering diajak melihat ke lokasi , dan membiarkannya menjelajahi setiap bagian rumah.  Membiarkan mereka melihat perkembangan perubahan setiap prosesnya.  Selain itu, anak-anak dapat berkeliling dan melihat lingkungan sekitar rumah, calon tetangga baru, bahkan ikut mengamati dan akhirnya berkenalan dengan teman-teman sebaya yang tinggal di sana.  Bahkan jika mereka ingin main pasir yang akan dipakai untuk plester rumah, biarkan saja.  Keluar masuk rumah yang masih dalam tahap perbaikan, biarkan saja.  Selama hal tersebut tidak membahayakan mereka, dan justru membuat mereka merasa nyaman serta menjadi belajar dari sana, hal itu tidak akan merugikan.

Altair memegang tangan akemi, mengajak main pasir di halaman belakang rumah 
sementara babah memantau pekerjaan tukang (foto : dokumentasi pribadi)

*Berkeliling rumah
Setelah renovasi selesai, rumah yang akan ditinggalkan siap diisi barang-barang yang akan dipindahkan dari rumah sebelumnya.

"Dimana kita akan meletakkan tv?"

"Ini dapur.  Kulkas nanti diletakkan di sini, ya umi?"

"Tempat tidur Altair ditaruh dimana ya?"

Kami menjelaskan bagian-bagian rumah, dan rencana meletakkan barang-barang yang kita miliki.  Rumah yang siap kami tinggali akan kembali terisi dengan berbagai macam barang yang biasa kami gunakan di rumah sebelumnya.  Bahkan kami akan memiliki kegiatan baru dengan lebih banyak menanam berbagai macam tanaman, karena halaman kami yang baru lebih luas dari sebelumnya, atau bermain rumah-rumahan dengan memasang tenda di luar sambil makan es krim coklat, hmmm.. ^^

*Memberikan sebuah kotak
Saat ini proses packing masih berlanjut.  Dengan waktu yang terbatas, rasanya cukup menggemaskan dan menghabiskan waktu, ketika saya sambil berpikir dan menyusun barang, akemi ikut memasukkan bonekanya ke dalam tas pakaian.  Atau Altair bertanya dimana ia harus meletakkan mobil-mobilannya?
Akhirnya  saya memberikan masing-masing satu buah kotak penyimpanan untuk dipergunakan Altair dan Akemi meletakkan barang-barangnya.  Mereka bisa memasukkan barang-barangnya dan boleh mencoret-coret kardus yang mereka miliki dengan spidol atau krayon untuk menandai kardusnya masing-masing.  Mereka melihat saya memberikan label pada setiap kotak yang telah kami susun, dan artinya saya juga mengijinkan mereka memberikan 'label' pada kotaknya masing-masing.

baca juga : Packing (mainan juga) Pindahan Rumah

Saya cukup deg-deg an menanti hari kepindahan kami, dan awal-awal kehidupan kami di rumah baru.  Namun kami harus optimis anak-anakpun sudah siap dan tetap merasa nyaman, bahkan jauh lebih menyenangkan karena mereka siap pindah ke rumah baru.  Semoga, INSYAALLAH...

Adakah yang memiliki pengalaman serupa dengan saya?


#ODOP
#bloggermuslimahindonesia





Komentar

Postingan populer dari blog ini

DIY: Kaleng/Ember Cat Bekas Menjadi Kursi

Anak Demam, Berapa Dosis Parasetamol yang Sebaiknya Diberikan?

Ketika Tayo Mengalahkan Emak-Emak