Mengenalkan dan Mengajarkan Berbagai Emosi pada Anak

Saya adalah orang yang sangat terbuka menggambarkan bagaimana emosi dan perasaan yang sedang dialami.  Maksudnya adalah, ketika saya marah, maka saya terbiasa mengatakan langsung kepada orang yang bersangkutan bahwa saya marah, sekaligus dengan beberapa alasan dan penyebabnya. Begitu pula ketika saya merasa sedih, kecewa, bahagia, ragu dan sebagainya.  Dan pengungkapan saya tidak dengan emosi yang meledak-ledak.  Pada awalnya, pasangan mungkin menganggap kebiasaan saya adalah sebuah lelucon.  Karena saya dapat mengatakannya secara biasa saja, lebih tepatnya mencoba mengatur emosi saya beberapa saat.  Rasanya sih berat jika tidak terbiasa, atau orang yang bersangkutan dengan penyebab emosi saya itu ternyata orang yang emosinya tidak bisa ditebak.  Hanya, saya mulai membiasakan hal ini agar lawan bicara saya bisa mengerti apa yang saya rasakan.  bukan hanya menebak-nebak, dan sayapun tidak menghabiskan waktu dengan emosi yang kurang baik dalam waktu lama.

Bagi orang dewasa yang sering melupakan, bahkan tidak dapat menggambarkan perasaan yang mereka miliki, adalah sesuatu yang menurut saya dapat membingungkan orang lain, dan membuat kompleksitas emosi mereka akan semakin banyak dan tidak jelas, hingga akhirnya membuat permasalahan mereka bisa menumpuk dan menjadi tidak terselesaikan.

Misalkan permasalahan awal adalah hanya sebuah kesalahan kecil yang membuat mereka marah.  Namun karena tidak dapat menjelaskan emosi marah yang mereka rasakan, bahkan tidak dapat menjelaskan penyebab kemarahan itu, membuat lawan bicara yang dimaksud tidak mengerti sehingga pada akhirnya akan muncul emosi lain seperti kesal, kecewa, sedih dan persaan lain yang mengganggu kehidupan selanjutnya.

Atau ada juga yang merasa tidak perlu dikomunikasikan, namun pada kenyataannya emosi itu mengganggu, bukan tidak mungkin akan semakin menumpuk dan suatu saat akan meledak dan menjadi hal yang lebih tidak baik.

Setiap manusia memiliki emosi, dan bukan sebuah larangan untuk dapat mengeluarkan emosi yang kita rasakan agar jiwa kita menjadi lebih sehat.  Namun jika kita tidak dapat mengatur emosi yang kita rasakan dengan cara terarah, baik dan mengkomunikasikan dengan cara kurang tepat bukan tidak mungkin permasalahan akan semakin menumpuk dan mempengaruhi kehidupan kita selanjutnya.

Hal ini saya coba terapkan kepada anak-anak.  Saya ingin mereka dapat mengenali, memahami, dan menguasai emosi mereka sendiri.  Saya Ingat ketika saya kecil, saya diajarkan oleh orangtua saya khususnya papa, agar tidak kalah dengan emosi yang bisa jadi memberatkan langkah kita.  Termasuk bahagia yang terlalu berlebihan.  Kami (Saya dan saudara-saudara saya), diaharpkan dapat mengidentifikasi perasaan dan mengkomunikasikan emosi/perasaan saya dengan baik.  Sehingga dalam membuat sebuah kesimpulan dan penyelesaian sebuah akibat dari emosi yang didapatkan dapat terselesaikan dengan baik.  Jadi sayapun merasa, emosi harus diajarkan sejak masih anak-anak.

foto dokumen pribadi, diambil dari buku big busy book penerbit DK publishing new york

*Memberikan nama merasa

Bagi balita dan anak-anak prasekolah, ada baiknya kita memberikan kata-kata yang sesuai dengan emosi.  "Adek, marah ya?",  "Abang sedang sedihkah?apa yang membuat abang sedih?" Tidak apa-apa bilang adek marah.  Tidak masalah abang bilang abang sedih.  Dengan hal itu, dapat membantu mereka memahami apa yang sedang terjadi, dan pada akhirnya bisa memahami apa yang orang lain rasakan.
Sementara untuk usia yang tua, mungkin akan membantu menjelaskan beberapa perubahan yang mereka alami dan hal itu adalah sebuah emosi yang wajar diusianya.

*Perasaan  tidak 'Salah'

Terkadang dalam usaha memperbaiki perilaku yang tidak diinginkan, orangtua membernarkan anak mereka karena memiliki cara tertentu.  Tapi tidak ada yang benar-benar bisa mengendalikan perasaanya terhadap sesuatu.  Yang bisa kita kontrol adalah bagaimana kita bertindak

Kita bisa mencoba mengatakan perasaan anak anda, "Umi mengerti bahwa abang kesal dan sedih tidak jadi latihan futsal hari ini." Kemudian anda dapat menawarkan sebuah alternatif.  " Abang bisa masuk kamar, dan menangis sebentar agar perasaan abang lebih enak."  Atau "Abang boleh pukul bantal yang ada di kamar."  Sangat penting rasanya dapat menyediakan alternatif pilihan meluapkan perasaan dengan prilaku yang dapat diterima, bukan hanya mengatakan apa yang tidak boleh dilakukan.

*Berbicara tentang perasaan anda sendiri

Memberikan nama perasaan anda sendiri, dan lakukan secara verbal.  Anda bisa mengatakan bahwa anda merasa marah, bersemangat atau emosi apa yang menyebabkan sesuatu.  Anda berperilaku dengan cara yang membuat anak memperhatikan.  Setelahnya anda dapat memperlihatkan tindakan apa yang anda lakukan.  Kemudian tanyakan dan ceritakan kepada mereka, bagaimana cara umi dan babah menangani emosi yang sedang terjadi.

*Perasaan orang lain

Saat anak anda mengerti kata-kata yang menjadi bagian dari sebuah perasaan.  Sementara yang lebih besar memahami beberapa alasan dibalik emosi besar mereka.  anda dapat menunjukkan bahwa perilaku mereka dapat membuat orang lain merasa dengan cara tertentu.  anak-anak akan tahu seperti apa rasanya dan kemungkinan besar ingin menghentikan perilaku apapun yang dapat membuat orang lain merasa tidak enak.

Misalnya, anda bisa memberi tahu anak anda bahwa anda mengerti mereka sedang marah, tapi mereka dapat menyebabkan adiknya merasa sedih.  Anak anda akan mengerti apa yang menyedihkan terasa dan tidak ingin berlama-lama membuat adiknya merasa seperti itu terus menerus.  Dengan cara seperti ini diharapkan dapat membantu anak anda dalam hubungan berikutnya atau di masa depan.  Berempati dengan emosi orang lain penting untuk memiliki hubungan interpersonal yang efektif.

Semoga dapat bermanfaat, wallahu a'lam.

#ODOP
#bloggermuslimahindonesia


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Anak Demam, Berapa Dosis Parasetamol yang Sebaiknya Diberikan?

DIY: Kaleng/Ember Cat Bekas Menjadi Kursi

Ketika Tayo Mengalahkan Emak-Emak