Serunya Anak Batita

Apakah anak anda sudah mulai memasuki usia 2 tahun? ataukah saat ini adalah usianya yang ke-2 tahun? It's me! Anak keduaku saat ini usianya 23 bulan.  tidak sampai sebulan lagi, akemi memasuki usianya yang ke 2.  Jarak yang cukup jauh dengan abannya, membuatku mulai berpikir dan mengingat-ingat kembali, apa yang terjadi dan harus dihadapi saat anak usia 2 tahun.  Apakah masa egoisnya? menghadapi masa tantrum  yang bisa muncul kapanpun, dimanapun? dan apapun itu... ;)

"Umi.., kupuk." Akemi meminta kerupuk dari dalam toples kepadaku
"Nah, sudah dulu ya dek..., jadilah nanti lagi" ujarku menjelaskan.
"Kpuk!...Kupuk..." memelukku dan menunjuk toples kerupuk yang posisinya kuletakkan agak tinggi, hingga akemi agak sulit untuk menggapainya.
"Udah dulu ya nak, udah banyak tadi." ujarku kembali.
Akemi menangis, menangis untuk sebuah tambahan kerupuk yang sebenarnya sudah beberapa kali dimakannya.  Ku ambil sepotong kue yang lain dan menawarkannya.
"Kue? mau? "
"ga mau..." ujarnya dengan lantang *uupss
"Minum?" tawarku kembali sambil menggendongnya dan menenangkannya
dan voala, berhasil.  Akemi berhenti menangis dan minum air dari cangkir sapinya.  Sesudahnya, segera kutawarkan spidol dan kertas yang merupakan aktivitas menyenangkan untuknya akhir-akhir ini  untuk melupakan kerupuk yang mungkin saja dimintanya kembali.  Bukan..., bukan tidak boleh makan kerupuk.  Tapi jika sudah terlalu banyak makan kerupuk rasanya lebih baik kita ganti dengan makanan lain yang lebih 'berisi' bukan?

woaaahhh...., di saat usianya sekarang, semua bisa terjadi.  Saat ini kerupuk, nanti kue, lalu? kemudian?

Yook kita lihat dunia anak usia 2 tahun.

dokumen pribadi

APA YANG HARUS DIHARAPKAN?

Setiap anak jelas berbeda. Beberapa anak lebih intens atau lebih sensitif, ada yang santai. Beberapa anak melampaui tonggak perkembangan dengan pesat, beberapa akhirnya bisa menemukannya.

Secara umum, kita bisa seringkali melihat beberapa perilaku ini dari anak berusia 2 tahun:
Tantrum, menunjukkan sikap 'seolah' sudah besar dan semakin besar, mengklaim segala sesuatu sebagai "milikku" (meskipun kenyataannya bukan punya mereka), ingin melakukan sesuatu sendiri, masih ingin ditimang/dipeluk, merasa sangat sedih ketika apa yang diinginkan tidak didapatkan, masil kesulitan berbagi, menunggu, bergiliran, mengontrol emosi, masih kesulitan dengan kondisi peralihan yang tiba-tiba, terkadang ada perubahan kebiasaan makan maupun tidur, dan beberapa hal lain.

JADI, APA YANG HARUS DILAKUKAN?

Jujur, aku rasa tidak ada patokan yang jelas dan pasti dalam menghadapi semua perilaku anak.  Cara menghadapi Altair di masanya, belum tentu sama dengan menghadapi akemi.  Dan semua itu butuh proses.  Namun, kadangkala banyak orangtua melakukan tindakan 'instant' seperti memberikan jeda waktu sesaat atau mengabaikan.

Anak-anak karena belum bisanya mengendalikan emosi 'besar' mereka, mungkin kita perlu beberapa strategi, tips dan trik.
Pengalamanku bisa jadi berbeda dengan yang lain, tapi mungkin saja dapat dicoba hingga membuat kondisi menjadi kembali aman dan terkendali bagi anak dan tentu saja kita orangtuanya.

Mencoba berempati.  Mungkin kita tidak peduli dengan sebuah plastik bungkus belanjaan yang baru saja dibawa pulang.  Belum tentu dengan anak anda.  (Ini pengalamanku), plastik itu tadi diletakkan di bawah dan terkena becek tanah kotor, harus segera dibereskan. Tapi hari itu, akemi tertarik untuk memainkannya.  Dengan bungkusnya, ia memasukkan mainan ke dalamnya dan berjalan-jalan keliling rumah seolah habis melakukan perjalanan belanja.
Aku mecoba untuk menahan mengambil plastik itu dan membereskannya.  Tidak pada saat itu. Mencobalah untuk membatasi kata tidak, kecuali untuk sesuatu yang benar-benar serius dan berbahaya.  Pengalihan mungkin lebih baik.  "Nih ada tas kecil, coba adek masukin ke sini". Atau mengubah kata tidak menjadi ya dengan beberapa sayarat dalam kondisi tertentu.  Misalnya, "Adek boleh keluar, setelah ganti bajunya."

Mengajarkan sesuatu dari sebab akibat.  Dengan beberapa perhatian, saat Altair melakukan banyak hal, akupun saat ini melakukan hal yang sama dengan adeknya, Akemi.  Aku ingin mengajarkan dari sesuatu hal yang kita lakukan akan mendapatkan akibat setelahnya.  Terkadang anak-anak 'lebih kecil' 'sering' membongkar sesuatu dari sebuah kantong.  "Lihat, dek semua barangnya keluar, berantakan!'

Akupun ingin mengajarkan sesuatu dengan contoh sebuah tindakan.  Mereka sangat mudah untuk meniru sesuatu. Menceritakan sebuah buku, membalik kertas, menyusun dan mengembalikan sesuatu, atau mencoba terus dan terus untuk melakukan sesuatu yang terlihat lebih sulit untuk mengajarkan kegigihan.  Memberikan semangat dan dukungan atas sesuatu hal baik yang telah dilakukan.  Kebetulan Akemi sedang senang mencoret sesuatu, tidak mungkin dengan usianya menghasilkan gambar bahkan tulisan yang sempurna, namun dengan usahanya mencoret semua kertas tidak hanya 1 garis, tapi banyak garis, lingkaran dan mulai dapat dikontrol ukuran yang dia inginkan, besar-kecil, juga bermain play dough, walaupun dengan menekan-nekan dan memipihkannya sambil berkata, "umi...ni pempek".  Itu merupakan sebuah progress peningkatan kemampuan dari sebelumnya tidak bisa, menjadi bisa dan mulai berimajinasi menggambarkan sesuatu yang pernah ia temukan.

Kadangkala kita perlu bersikap aneh dan terlihat bodoh.  Aku hanya menginginkan tawa, kesenangan, dan kelucuan dalam hari-hari mereka.  Yang 'mungkin' terlihat membosankan bagi kita, bisa membuat anak-anak tertawa lucu bahkan menjadi sebuah permainan.  Memang sih, kalau dipikirkan secara dewasa, setiap hari aku bisa saja melakukan sesuatu yang konyol. Seperti ikut menari 'wigle' bersama Akemi, berloncat-loncatan seperti monyet, berlari berkejaran,  bermain gelitik,  atau menyampaikan pesan dengan sebuah kertas gulungan.  Tapi percayalah ketika melihat anak-anak tersenyum riang, mood kita ikut berubah menjadi lebih baik.  Sesuatu yang sederhana namun menjadi istimewa

Menyampaikan dengan sebuah kata-kata untuk menegaskan bagaimana perasaan maupun pikirannya untuk menunjukkan kebutuhannya.   Misalnya ketika hari panas dan Akemi terlihat mengusap keningnya yang berkeringat, aku biasanya akan segera berkata, "Panas ya, dek?  umi hidupin kipas ya? bajunya kita ganti yok, basah sama keringat." atau ketika tangan kecilnya terlihat menggaruk-garuk kulitnya, aku biasanya berkata, "Gatel dek? jangan digaruk, kita kasih minyak aja ya".  Dan saat ini untuk beberapa hal yang pernah atau seringkali aku katakan, tidak perlu lagi aku ungkapkan.  Jika Akemi mulai berkeringat, ia akan menghidupkan kipasnya sendiri sambil berkata, "anas...", atau ketika kakinya gatal, ia sudah bisa meminta minyak kepadaku, "Mi, atel..ake minyak."  Yup! mungkin belum semuanya, namun aku ingin mengajarkannya untuk menyampaikan sesuatu dengan ucapan jelas, bukan rengekan ataupun teriakan.

Tetap memberikan batasan untuk sesuatu yang memang perlu dibatasi.  Aku merasa Akemi perlu untuk mulai belajar mengerti bahwa memukul adalah sesuatu yang tidak baik.  Memukul bukanlah sebuah permainan.  Mencoba meminta baik-baik sesuatu yang diinginkan tanpa merebut dengan meminta ijin.  Masih berproses, namun untuk beberaha saat Akemi sudah mulai menunjukkan kemajuan.  Jika ia menginginkan mobil-mobilan Altair, Akemi sudah bisa meminta ijin dengan berkata, Aba...adek mau mbil".  Walaupun belum sempurna untuk memahami pinjam dan meminta belum tentu kita dapatkan, namun sudah bisa berkata terlebih dahulu tanpa langsung merebut merupakan progres yang perlu dihargai.

Ritme yang berbeda antara anak balita dengan kita, bahkan dengan abangnya yang sudah melewati masa itu, terkadang perlu menuntuk kesabaran.  Jika kita tidak belajar bersabar dan menunggu, kemungkinan kita tidak memberikan kesempatn padanya untuk bersabar.  Misalkan saja, ketika kami berjalan beriringan, maka aku perlu melambatkan langkahku untuk menyamai langkahnya yang sudah dipercepat baginya.  Kecuali disaat - saat membutuhkan waktu singkat, akupun menggendong Akemi agar segera sampai tujuan.  Namun jika waktunya banyak, aku lebih sering memberikan kesempatan menyelesaikan sesuatu dengan ritmenya, dan akupun dapat menunggu sambil mengerjakan hal lainnya, hehee..

Jika teman bertamu ke rumah, mungkin akan terpana dengan kondisi rumahku yang menggunakan furniture 'aman' untuk anak balita.  Aku sengaja mengatur limgkungan di rumah menjadi lebih nyaman untuk anak-anak.  Ruangan sepi furniture berat, meminimalisasikan pecah belah, sudut tajam, dan area yang memungkinkan mereka bisa bergerak lincah, berantakan dan tanpa ketakutan dapat merusak baranga atau bahkan melukai mereka.

Seperti Altair sebelumnya, Akupun memberikan akemi kebebasan untuk berekspresi dengan karakter unik mereka.  Tidak langsung mencoba menghentikan dan membantunya melakukan sesuatu, hingga ketika mereka berhasil, mereka akan bangga dengan usahanya.  Menaiki kursi untuk mengambil sesuatu dari atas lemari.  Merangkak untuk mengambil bola yang masuk ke bawah meja.  Aku membiarkannya, walaupun akupun tetap akan berkata, "Adek...hati-hati ya". ^^

Yang jelas, yook kita nikmati saat-saat ini.  Saat hari-hari kita yang bisa saja sangat disibukkan dengan kelakuan mereka, tangisnya, gurauannya, manjanya, dan kegigihannya.  Mungkin kita tidak membayangkan sebelumnya kita termangu, dan memandang tangis mereka, karena sebuah kerupuk.  Dan jangan ketinggalan dengan itu,  Heheee...

#ODOP
#bloggermuslimahindonesia



















Komentar

  1. Masya Allah Akemi cerdas ya.. ^^
    Aku jadi ingat saudaraku yg sejak kecil diajarkan tentang sebab akibat.
    Waktu itu dia (tk) minta sesuatu, terus aku bilang nanti begitu, dia menjawab 'gpp, kalau aku begitu aku yg salah'

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semua terus bertumbuh dan berproses, hingga menemukan sesuatu yang pas menurut kultur keluarga masing-masing, hehee..

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Anak Demam, Berapa Dosis Parasetamol yang Sebaiknya Diberikan?

DIY: Kaleng/Ember Cat Bekas Menjadi Kursi

Ketika Tayo Mengalahkan Emak-Emak