Punya Abang dan Kakak itu Anugerah

Beberapa orang mengatakan menjadi anak tunggal itu membahagiakan. Menjadikan lebih istimewa dan pusat perhatian. Apapun yang dimau akan diprioritaskan, tidak perlu menunggu giliran dan antrian bahkan bekasan.

Aku bukanlah anak tunggal yang bisa mendapatkan semua hal serba baru. Beberapa hal, bahkan dijaman itu sebuah buku cetak yang digunakan disekolah bisa berumur panjang. Baju sekolahpun benar-benar sama setiap tahunnya. Dengan kenyataan seperti itu, jangan heran untuk seorang anak sepertiku yang memiliki 2 saudara diatas dengan jarak usia tidak terpaut jauh akan menggunakan banyak barang 'bekasan' istimewa yang sdh pernah terpakai. Kaos yang kebesaran, rok yang mulai sempit di kakak dapat dipermak hingga muat di tubuhku. Setumpuk buku pelajaran yang mulai keriting disetiap lembarnya menjadi hak milik terakhirku, hingga mainan yang bisa digunakan setelah abang dan kakak sudah merasa bosan atau diberikan secara cuma-cuma untukku😉


Foto: dokumen pribadi

Kakak merupakan panggilan untuk saudara perempuan di atasku. Abang merupakan panggilan untuk saudara laki-laki diatasku. Abang dan kakak, begitu biasanya aku memanggil mereka. Keliahatan biasa saja ya sepertinya? Sebenarnya tidak. Kami bertiga besar bersama, bermain dan banyak melakukan banyak hal bersama. Aku sering dibilang anak bawang. Anak kecil yang suka nguntil kemana abang dan kakaknya pergi. Mengikuti permainan yang mereka lakukan.
Waktu aku masih kecil, belum punya adik. Dengan status anak bungsu, terkadang aku sedikit dipinggirkan oleh abang dan kakak. Sedih sesekali jika tidak diajak main bersama karena dianggap anak bungsu dan masih kecil, atau menjadi bahan percobaan demi bisa diajak main. Aku kadang-kadang bisa merasakan itu, tapi entah kenapa, aku ga kapok juga karena aku merasa senang-senang saja. Karena kejadian seperti itu hanya sesekali, selebihnya abang dan dan kakak merupakan saudaraku yang istimewa.

Dari seorang abang, aku diajarkan bermain sepeda dengan caranya. Di sebuah lapangan luas sebelah rumah, abangku mendampingiku ketika aku menaiki sepeda roda dua. Hanya dipegang sesaat, setelahnya, Wuuzzzz..., Dengan kekuatan dorongan tangannya, sepedaku berlari cepat dan membuatku terjatuh kemudian luka dimana-mana, tapi abang bisa membuatku pantang menyerah, dan mencoba kembali dengan caranya. Sehingga dalam 1 hari itu, aku berhasil naik sepeda roda dua berkat abang. Tidak hanya itu, dengan 'kecanggihan' abang, aku diajarkan memanjat. Memanjat teralis rumah, memanjat pohon mangga dan pohon rambutan dihalaman depan rumah membuat kenangan terindah untukku hingga dewasa seperti ini urusan manjat-memanjat tidak lagi menjadi ketakutan yang berarti, kecuali manjat chat di grup wa *xixiii...
Saat abang masih kelas 6, abang sudah menjadi peserta kejurnas termuda dan juara ketiga kejuaraan nasional di bidang olahraga karate. Sabuk coklat diusia 12 tahun membuatnya menjadi sempai orang-orang yang lebih dewasa. Abang menjadi pelindung yang bisa diandalkan saat aku berjalan berdua abang.

Kakakku tak kalah istimewa. Sejak kecil kakak yang punya kepribadian percaya diri, mengajarkanku untuk tidak jadi pemalu. Kakak yang gemar menari, bernyanyi dan tampil di muka umum, sering membuatku takjub. Aku sering diajarkan bagaimana memantaskan pakaian di momen tertentu. Diajarkan berani tampil ketika menjelang ujian kesenian untuk bernyanyi di depan kelas. Diajarkan berani menghadapi teman laki-laki yang mengusili agar tidak diganggu lagi. Dan kakaklah yang membuatku merasakan enaknya hasil gilingan bawang merah dicampur bawang putih dengan sedikit garam dan cabe mentah diusiaku 5 tahun😀. Kakak memang istimewa dengan keberaniannya mencoba banyak hal baru, percaya dirinya yang tinggi sering memotivasi aku agar berani tampil sebagai diriku sendiri.

Abang dan kakak sangat istimewa, tumbuh bersama mereka merupakan anugerah yang luar biasa. Bermain engklek, menirukan tongkat seolah-olah menjadi pendekar kungfu yang piawai, menembak kelereng, lompat tali hingga di atas bahu, dan setumpuk daftar permainan di masa kecil dapat aku mainkan seru bersama abang dan kakak. Walaupun saat ini abang sudah tidak ada lagi karena meninggalkan kami semua di usianya saat itu 17 tahun, tapi senyuman dan 'kebandelan' ala laki-lakinya masih melekat dalam ingatanku. Kakak yang tinggal berjauhan denganku masih sering memberikan semangat dan inspirasinya untukku di saat kedua orangtuaku sudah tidak ada. Masa kecilku sangat berarti dengan adanya abang dan kakak. Bahkan hingga aku besar dan memiliki anak, kenangan bahagia masa kecilku bersama mereka, masih melekat dalam ingatanku. 💗

Komentar

  1. Hehe, iya ya kalau jadi anak bungsu jadi banyak dapat barang bekasan dari Kakak :) Hemat kan jadinya *hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selain hemat, sbnrny emang karena ngefans sama kakak, kdng2 bikin bahagia bgt dpt barang yang tdnya cmn status dipinjemin, malah jd hak milik.. Hahaha.. Polos yak waktu kecil.

      Hapus
  2. Nasib punya kakak,seringnya dapet lungsuran hehehe...tapi nggak kok kita dulu nggak nolak ya haha,dipake aja gitu hehe
    salam kenal mak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin lebih tepatnya pasrah tidak bs apa2.. Xoxoo

      Hapus
  3. Nasib punya kakak,seringnya dapet lungsuran hehehe...tapi nggak kok kita dulu nggak nolak ya haha,dipake aja gitu hehe
    salam kenal mak

    BalasHapus
  4. Gak pernah merasakan menjadi anak bungsu, Mak. Saya anak nomer dua dan punya adik saat usia belum satu tahun keknya. Sekarang anak bungsuku kuperlakukan sama dengan anak sulung. Bedanya yaa dikasih pengertian harus hormat sama kakak dan kakak harus sayang sama adek. Tapi saya usahakan perlakuan yang kuberi sama

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pernah jd anak bungsu smpe kelas 5 sd itu suka dibelain trus sama mama.. Walopn kdng2 ga diajakin maen sm kk😂 tp setelah jd kakak, suka dipuji buat jd contoh adek.., cmn sering juga dimintain tolong jaga adek😅 tinggal pilih yang mana... Wkwk
      Tp emang sih, bagaimanapun mesti diajarin dr kecil ya mak, biar yg adek bisa menghargai kk, jd kk juga mesti sayang adek😍
      Salam kenal mak..

      Hapus
  5. Aku sebel sama barang lungsuran. Soalnya saya jd bayang2 kakak dan abang, bukan kepribadian sendiri ... Skrg ke anak jg pilih2 kalau mau lungsurin, ga membabibuta kaya aku dl kecil

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apalagi barang lungsurannya udh lewat masa tren nya.. Berasa edisi vintage banget ya mbak😄😂

      Hapus
  6. Aih, beruntungnya punya kakak dan abang yang perhatian ya.
    Sehari bisa bersepeda itu luar biasa!
    Kalian tampak sangat bahagia di foto ��

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

DIY: Kaleng/Ember Cat Bekas Menjadi Kursi

Anak Demam, Berapa Dosis Parasetamol yang Sebaiknya Diberikan?

Ketika Tayo Mengalahkan Emak-Emak