Mudik (Saat Itu)

Sebentar lagi lebaran, Sudah hampir 8 tahun aku tidak mudik lebaran seperti rutinitas yang aku lakukan setiap tahunnya.

Sejak menikah, kemudian tidak lama setelah itu mama meninggalkan kami, akhirnya aku memutuskan ikut suamiku yang berbeda kota denganku, lalu disusul kepergian papa, akupun meninggalkan pekerjaan, meninggalkan kebiasaan, termasuk sudah meninggalkan rutinitas mudik lebaran.

Mungkin aku sudah tidak tahu lagi bagaimana repotnya keseruan mudik menjelang lebaran, namun kenangan saat aku pulang ke rumah orangtuaku dan mereka menyambut kedatanganku, masih dan selalu teringat jelas dalam pikiranku. Kesibukan menjelang persiapan hari raya dari menyiapkan kue, menyiapkan masakan, dan membersihkan rumah, mungkin hampir mirip ceritanya dengan keluarga yang lain. Mirip bukan berarti sama. Karena mama punya andalan masakan yang tidak kutemukan rasanya yang sama dengan masakan lain serupa. Kebiasaan lain adalah banyaknya cerita tersimpan dan membludag kutumpahkan saat aku bertemu mereka.

Foto bersama tak kalah serunya ketika kami hanya berpikir waktu pertemuan kami sebentar lagi berakhir di saat libur hari raya berakhir dan di tutup dengan sangu rendang buatan mama plus oleh2 dari kota setempat.

Euforia pesan tiket agar tidak kehabisan dan kami duduk di tempat yang nyaman, tas berisi baju yang tidak terlalu banyak kalah dengan oleh-oleh yang dipersiapkan untuk dibawa pulang mudik, seolah menjadi rutinitas yang tidak akan pernah terlupakan.

Namun saat ini hal itu tidak mungkin lagi terjadi. Aku berkumpul dengan kakak dan adikku yang berbeda kota denganku membuat kesepakatan baru, bahwa pertemuan kami bisa kapan saja, tidak mesti saat hari raya, dan tempatnyapun menyesuaikan. Yaaahh...akan terasa berbeda jika lebaran tidak ada orangtua lagi. Anak-anakkupun tidak sempat bertemu mereka, sementara anak-anakku adalah cucu pertama mereka, apalagi nanti anak-anakku dari kakak dan adikkupun mengenal opa dan oma mereka hanya dari foto.

Mudik (saat itu), mungkinkah tercipta untuk anak-anakku nanti?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Anak Demam, Berapa Dosis Parasetamol yang Sebaiknya Diberikan?

DIY: Kaleng/Ember Cat Bekas Menjadi Kursi

Ketika Tayo Mengalahkan Emak-Emak